Suatu pagi di rumah sederhana yang berada di pinggiran Jakarta, seorang anak laki-laki sedang terlihat bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ia bergegas memakai baju seragamnya dengan rapi dan memakai kacamata kerennya untuk bergaya. Ia menyisir rambutnya terus menerus sampai mendapatkan gaya yang pas untuknya. Ia tersenyum-senyum sambil melihat dirinya sendiri di kaca bagaikan melihat artis Brad Pitt yang ganteng itu.
Anak laki-laki ini adalah Emo. Emo adalah anak yang sangat lucu dan juga cerdas tapi dia juga sangat percaya diri walaupun tampangnya pas-pasan sama seperti kantongnya. Emo pagi ini akan memulai semester barunya di kelas 2 SMA dan tidak seperti kebanyakan anak SMA yang ingin mendapatkan nilai bagus dan prestasi, cita-cita Emo sekarang ini adalah ingin mendapatkan pacar yang cantik karena dari semenjak TK dia belum pernah pacaran, kasihan sekali
"kak Emoooo!!!! cepetaaaan!! udah jam berapa niiiih!!! nantiiii akuuu telaaat!!!" ucap Lani
"iyeee bawel, ayo cabut," ucap Emo bergegas sambil mengambil helm-nya dan menuju keluar rumah
"mah pah pergi dulu ya! daah!!" ucap Lani mengucapkan salam kepada orang tuanya
"iya hati-hati di jalan! Emo jaga adiknya ya!!" ucap ibu Emo
"iya mah!!" ucap Emo dari luar rumah
Emo pun naik vespa nyentriknya lalu ia baru sadar bahwa kunci motornya tertinggal di kamarnya. Ia pun terlihat kesal dan naik ke kamarnya untuk mencari kunci motornya. Emo mengacak-acak seluruh isi kamarnya sampai semuanya berantakan, namun ia tidak menemukan kunci motor vespanya. Ia pun frustasi dan melihat jamnya yang sudah menunjukkan pukul 06.40.
"anjiiir!!! 20 menit lagi!! mampus gw!!" ucap Emo
Emo pun panik dan turun ke bawah untuk mencari kuncinya dan ibunya pun menghampirinya
"ada apa mo ko belum berangkat?"
"mah liat kunci Emo gak?"
ibunya hanya terdiam sambil memasang muka jengkel seperti di pagi-pagi sebelumnya
"kenapa mukanya kaya gitu?"
"kamu kan selalu menyimpan kunci motor di celana kamu mo," ucap ibunya
"oh iya ya," ucap Emo dengan muka bodohnya
"pasti setiap pagi kamu lupa, kamu ini aneh, masih muda udah pelupa melebihi embahmu,"
"yaudah ya aku buru-buru,"
Emo pun bergegas keluar rumah dan melihat di luar adiknya sudah begitu kesal dan terlihat geram. Lani terlihat begitu kesal karena kalau pergi ke sekolah bareng kakaknya pasti selalu telat karena kebodohan kakaknya setiap pagi itu
"lama lo!! gw telat nih!!" ucap Lani
"tenang aja, gw ngebut!""
"yah jangan ngebut-ngebut, gw takut..."
"bodo ah, ntar telat,"
"mampus deh gw,"
Emo pun langsung menjalankan vespanya dengan cepat di jalan raya. Ia menerabas genangan air sampai mengenai seorang bapak-bapak yang sedang bersantai duduk di pinggir jalan.
"sontoloyo kutukupret!! wedus gembel!!!" ucap bapak-bapak itu
Emo hanya tertawa sambil terus menjalankan vespanya. Ia sudah tidak peduli lagi karena sebentar lagi sudah pukul 7. Emo mengendarai vespanya seperti pembalap profesional, setiap tikungan ia berbelok tajam sampai body motornya menyentuh jalanan. Kendaraan-kendaraan terus ia susul satu demi satu. Di perjalanan Lani terus berteriak-teriak memaki kakaknya karena ketakutan.
"nyetir yang bener dong!! dari tadi hampir nabrak terus!!" ucap Lani
"setiap pagi juga kaya gini kan!!"
"gw ga mau lagi bareng lo kalo kaya gini!"
Tidak lama ia pun sampai di depan sekolah adiknya dan berhenti tepat di depan gerbang sekolah.
"cepet turun! gw mau cabut lagi nih!!"
Adiknya hanya terdiam
"Lan!! ko lo diem aja sih!!" ucap Emo sambil menengok ke belakang
Emo kaget karena Lani terlihat pucat, wajahnya terlihat ketakutan. Tangannya pun erat memeluk kakaknya dan tidak mau terlepas. Lani shock karena Emo mengendarai motor seperti orang yang kesetanan
"Lan, Lan udah sampe," ucap Emo
"oh udah sampe?" ucap Lani
"udah, buru turun!"
"besok-besok gw naik bis aja," ucap Lani lemas
Lani pun turun dengan lemas, ia berjalan perlahan menuju gerbang sekolahnya dan dua orang temannya menghampirinya
"bareng kakak lo yang gila itu lagi?" ucap teman Lani
"iya,"
"tiap pagi pasti lo dateng jam segini," ucap teman Lani yang lain
"iya, gara-gara kakak gw,"
"iya tau gw, gara-gara kakak lo lupa naro kuncinya dimana kan,"
"iya seperti biasa," ucap Lani
Emo pun sampai di sekolahnya dan ia segera mamarkirkan vespanya dan berlari menuju gerbang sekolah. Jam di tangannya menunjukkan pukul 07.05. Di gerbang sekolah ia bertemu Pak Beta satpam sekolah asal Papua yang sudah bosan melihat wajah Emo setiap pagi karena telat.
"eh nak Emo, telat lagi e" ucap Pak Beta dengan logat papua
"Iya pak, saya boleh masuk kan," ucap Emo sambil tersengal-sengal
"tidak, tidak bole, beta nanti dimarahi,"
"yah pak Beta, saya mau belajar, tolonglah pak, sekali ini aja,"
"dari kemarin sekali terus, beta tak percaya,"
"ini saya kasih duit buat uang rokok," ucap Emo sambil memberikan uang 5000 rupiah
"beta tidak mau, kurang kurang e,"
"brengsek nih papua satu," ucap Emo dalam hati
"yauda pak Beta maunya berapa?"
"terserah nak Emo, asal jangan 5000...kedikitan e,"
"nih gw kasih ceban," ucap Emo
(ceban=10ribu)
"ini baru cukup buat beta, besok-besok datang cepat e,"
"ah bilang aja lo mau gw telat biar dapet duit tiap pagi, sialan lo," ucap Emo dalam hati dengan memasang muka jengkel
"eh ada apae? tidak ikhlas? kalo tidak ikhlas pergi pergi e!"
"wah gak ko Pak Beta, wah saya tiap hari ikhlas ngasih uang jajan saya buat pak Beta, saya seneng ko pak, hehehe, bapak satpam paling bijak disekolah ini, beneran deh pak" ucap Emo sambil menggerutu dalam hati
"nah gitu, Beta senang kau senang, cepat masuk e!"
Emo pun tersenyum takut melihat wajah seram pak Beta dengan badannya yang besar. Ia takut kalau Pak Beta tidak senang bisa-bisa ia dihajar seperti seorang temannya yang ketahuan memberikan uang 50.000 palsu kepada Pak Beta kemarin. Anak itu sekarang ada di UGD setelah mendapat 1 kali pukulan di wajahnya
"dasar kere kau ha, tiap pagi kasih beta cuma sepuluh ribuuuu,"
"iya pak Beta besok kalau telat kasih 50.000 deh, hehe," ucap Emo
"beta tungguuu kau basokk e!"
"gendut item bau dasaaar papua," ucap Emo menggerutu
Emo pun langsung bergegas menuju ke kelasnya. Ia harus naik ke lantai 3 karena kelasnya berada di lantai itu tapi seperti biasa Emo melakukan kebodohan lagi.
Emo tersengal-sengal, ia bersyukur sudah sampai di depan kelasnya. Ia pun menenangkan dirinya dan membuka pintu kelas itu dengan pasti. Setelah ia membuka itu, ia merasakan suatu kejanggalan
"kayaknya pelajaran pertama gw bahasa indonesia, ko pak Edi yang ngajar, dia kan guru fisika, oh mungkin pelajarannya ditukar, tenang-tenang gw bener ko," ucap Emo dalam hati
"eh bentar....ko anak-anak kelas gw berubah gini mukanya? ko beda semua? si Dino sama Moli mana? loh kok semua pada ngeliatin gw gini?"
Semua murid di kelas itu pun tertawa dengan kencang. Pak Edi pun demikian tertawa dengan puas, disela-sela pelajaran yg serius ada seorang badut berkacamata yang salah masuk kelas tanpa merasa salah sedikit pun.
"ada apa nak Emo? kenapa kamu berdiri saja?" ucap Pak Edi
"gak pak, ini bener XI IPA 2?" ucap Emo
"ini XI IPA 1, kelasmu di sebelah,"
Murid-murid pun tidak henti-hentinya menertawai Emo si badut sekolah itu. Ada beberapa orang yang meneriakinya
"woy mo jangan ngelawak mulu lo ah pagi-pagi!! hahaha!!"
"mo...mo....dari dulu gak pernah bener idup lo!"
Emo hanya terdiam dengan muka sok cool seperti biasanya. Ia tersenyum sok keren dan memalingkan mukanya dengan jantan. Ia berjalan pasti meninggalkan kelas itu dan tersenyum cool. Setelah berjalan melewati kelas itu Emo menyalahkan kebodohannya sendiri
"goblok!! goblok abis!! salah kelas lagi!! goblok lo emang mo...mo..." ucap Emo sambil memukul-mukul kepalanya
Emo pun sampai di depan kelasnya, ia memastikan betul bahwa kali ini yang ia masuki adalah kelasnya.
"XI IPA 2, nah ini baru bener," ucap Emo
Ia membuka pintu itu dan melihat suasana kelasnya yang hening. Seorang ibu guru membuka kaca matanya dan mengernyitkan matanya.
"nak Emo....sudah jam berapa ini? ucap Ibu Sofia guru Bahasa Indonesia
"jam setengah 8 bu," ucap Emo
"kamu telat terus dari dulu ya, mau jadi apa kamu?"
"anak band bu,"
Murid-murid sekelas pun tertawa riuh
"ditanya malah bercanda lagi, kamu tidak bisa serius ya?"
"saya serius bu, saya mau jadi anak band,"
"ngapain kamu sekolah kalau mau jadi anak band? ikut aja les musik diluar?!"
"hmm..biar ada kerjaan aja bu sekolah,"
"isi waktu luang? jadi kamu anggap sekolah ini cuma main-main?"
"gak ko bu,"
"kasihan orang tuamu mo, kamu ini tidak tahu diri,"
"maaf bu,"
Murid-murid sekelas hanya terdiam dan agak kasihan melihat Emo
"bu kasian bu, suruh duduk aja bu," ucap Dino sahabat Emo
"iya bu kasian Emo bu," ucap Moli
"diam kamu Dino, Moli!! kamu mau ibu hukum juga?!"
Dino dan Moli pun terdiam
"Emo! sekarang kamu berdiri di depan kelas sampai pelajaran ibu selesai! taruh kedua tangan kamu di kuping!"
"yah bu, saya mau belajar," ucap Emo
"membantah lagi...kamu mau dijemur di luar?!"
"gak bu, saya dihukum di sini aja,"
"nenek sihir dasar! badan selulit semua!!" ucap Emo dalam hati
Tidak terasa bel istirahat pun berbunyi. Semua murid pun dengan semangat keluar dari kelas dan menuju ke kantin untuk membeli makanan. Ada yang sekedar mengobrol dan bersenda gurau dengan teman-temannya. Emo seperti biasa selalu bersama kedua sahabatnya yang merupakan teman main bandnya yaitu Dino dan Moli.
Dino adalah seorang laki-laki yang berbadan cukup besar dan suara agak berat. Ia adalah pribadi yang ramah dan sedikit bodoh namun tingkat kebodohannya masih tidak separah Emo. Ia merupakan bermain bass di dalam band. Moli adalah pemain gitar sekaligus vokalis di dalam band. Ia berbadan tidak terlalu besar dengan wajah yang paling bener diantara kedua temannya yaitu Emo dan Dino.
"lo tau gak apa yang gw pengenin sekarang-sekarang ini?" ucap Emo
"apaan emang?" ucap Dino
"gw mau punya cewe bro, udah dari TK gw gak punya cewe, suram ya gw," ucap Emo
"lo sih selengean, kalo sama cewe lo harus cool terus serius dikit jangan selengean mulu," ucap Dino
"masa sih? gitu ya?"
"iya lah, emang lo suka sama siapa si?" ucap Dino
"siapa ya? kayaknya semua cewe cakep di sini udah punya cowo semua," ucap Emo
"Reni tuh belom," ucap Moli
"anjir, babon itu? gak dah gua," ucap Emo
"wah parah lo mo, gawat lo mo, fisik mainnya," ucap Moli
"ah elo, kalo mau comblangin gw sama yang bagusan dikit kenapa," ucap Emo
"siape dong? mang ada yang mau sama kita? ucap Dino
"Erin tuh cakep, rajin lagi, bisa jadi orang pinter lo sama dia," ucap Moli
"Erin? yang mana sih?" ucap Emo
"yaelah udah temenan 2 tahun masih aja gak inget," ucap Dino
"itu tuh anaknya," ucap Moli sambil menunjuk Erin yang berjalan sendirian menuju kelasnya
"ooh dia," ucap Emo
Erin terlihat berjalan begitu cantik dengan membawa buku di tangannya. Wajahnya cantik dengan kacamatanya yang membuat ia terlihat pintar. Erin adalah siswa yang sangat rajin dan cukup banyak siswa cowo yang menyukainya
"hai Erin...." ucap Moli, Emo dan Dino bersama-sama
"ih apa sih," ucap Erin
Erin pun berjalan melewati mereka tanpa peduli sedikit pun.
"apa gw bilang, kita ini bukan apa-apa, cewe-cewe di sini tuh sukanya sama cowo tajir, keren, gaul terus bermobil bro, lah kita?" ucap Emo
"iya sih, liat tuh si Erin,"
Erin terlihat berjalan berdua dengan seorang cowo keren bernama Galih. Cowo tajir dan keren ini memang banyak disukai para cewe-cewe di sekolah. Galih juga salah satu anggota dari band yang terkenal di sekolah.
"iya cewe di sekolah ini sukanya sama Galih ama temen-temennya, mobil ada, duit ada, tampang ada, apa-apa ada," ucap Emo
"yaelah cewe banyak kali mo, santai aja," ucap Moli
"iya mudah-mudahan ada cewe cakep yang mau ma gw, plis dateng siang ini juga,"
"lah di sekolah ini kan banyak?"
"gw mau yg beda mol, yang cantiknya tuh dari dalem, yang keliatan beda deh dari cewe-cewe biasa,"
"ah gw dah tau selera lo mah standar aja," ucap Moli
"beh lo belom tau aja, selera gw tinggi bro makanya gw belom pacaran dari TK,"
"ah itu mah karena lo gak laku," ucap Moli
"iya sih,"
"eh ngomong-ngomong bentar lagi ada pertandingan band antar sekolah nih! kapan nih latian?!" ucap Dino
"daftar aja belom!!" ucap Emo
"mang kita mau bawain lagu apaan?" ucap Moli
"keong racun gokil tuh," ucap Dino
"wah setuju gw, hahaha," ucap Emo
"anjir, gw keluar dari band ini sekarang juga kalo jadi nyanyi begituan," ucap Moli
Tidak terasa istirahat pun usai dan bel tanda masuk pun berbunyi. Moli, Dino dan Emo terlihat kesal karena harus belajar lagi. Mereka masih belum puas istirahat dan berharap sekolah cepat selesai
Siang itu Emo tidak menyadari bahwa doanya untuk mendapatkan gadis cantik telah terkabul karena dua gadis yang bersaudara kembar akan menjadi murid baru di sekolah Emo siang ini. Kedua gadis itu akan satu kelas dengan Emo, Dino dan Moli. Kedua gadis kembar ini begitu cantik dan aura cerah terpancar dari tubuh mereka. Tubuhnya molek, badannya tinggi langsing, kulitnya putih, berambut panjang dan berbau harum (bukan kuntilanak)
Kedua gadis kembar itu sedang berjalan bersama guru menuju ke kelas barunya dan mereka terlihat malu-malu. Sedangkan di dalam kelas, Emo, Moli dan Dino seperti biasa sedang membuat ulah
"mol, nih liat gw bawa apaan?" ucap Emo
"apaan tuh? anjiiiiiiiiiiir kecoak lo bawa-bawa ke sekolah, sarap lo!" ucap Moli yang ketakutan dan langsung berdiri dari kursi
"kenape lo? lo takut yee...." ucap Emo dengan muka ngeselin
"kagak.....," ucap Moli sok santai
"masa.........," ucap Emo makin ngeselin
"iyee....gw gak takut, kecoak doang," ucap Moli keringet dingin
"nih gw kasih satu," ucap Emo sambil menaruh seekor kecoak di dalam baju Moli
"ANJEEEEERRRRRRRR!!!!!!!!!!!"
Moli berteriak kencang sampai bisa masuk ke oktaf 9 yang jarang ia bisa lakukan ketika bernyanyi . Ia tiba-tiba langsung berlari-lari di kelas dan membuat suasana kelas menjadi gaduh
Ia lari kesana kemari seperti orang kesurupan
"ANJIR ANJIR, KECOANYA DI PUNGGUNG GW!!"
"mana-mana sini gw bantuin!" ucap Dino dan beberapa temannya
"CEPET KELUARIN WOY!!"
"mana sih?! kagak ada!!!"
"CARI DOOOONG YANG BENEEER!!!"
"buka baju lo cepetan!!"
Moli segera membuka baju seragamnya, semua murid wanita di kelas itu melihat tubuh kekar Moli yang memiliki perut rata dan dada yang bidang. Semua wanita sepertinya tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini karena tidak melepaskan pandangannya dari tubuh Moli yang atletis itu. Tapi seorang murid pria langka bernama Lino menunjukkan ketertarikannya terhadap Moli
"wow badan lo keren banget mol! lo nge-Gym ya?" ucap Lino yang pura-pura membantu Moli sambil meraba-raba tubuh Moli"
"Homo lo!!" ucap Dino
"yee....bukan lagi," ucap Lino
"ANJIIIRRR KECOAKNYA MASUK KE ANU GW!!!"
"wah gawat!!" ucap Dino
"buka celana lo mol!!!" ucap Lino
Moli membuka celana panjang SMA-nya, mata para murid wanita semakin melotot lebar sambil tersenyum senang tapi banyak juga diantaranya yang tidak kuat dan berteriak aaaaa!!! lalu memalingkan muka mereka
"ITU DIA KECOAKNYA!!" ucap Emo yang melihat kecoak itu berjalan cepat di paha Moli
"TANGKEP-TANGKEP BURU!!" ucap Moli
Emo, Dino, Lino (yang paling semangat) mencoba menangkap kecoak yang berjalan menyusuri paha dan kaki Moli. Ketiga orang itu terus menggerayangi tubuh bagian bawah Moli hingga Moli pun tak berdaya dan hanya bisa pasrah saja. Nyawanya berada di tangan ketiga orang baik ini.
"LO JANGAN BERGERAK DODOL!! GABISA KETANGKEP NIH!!" ucap Emo
"geli geli....hahahha," ucap Emo yang terus tertawa karena kegelian
Moli yang kegelian itu langsung berlari ke depan kelas dan dikejar oleh Emo, Dino dan Lino.
"WOY JANGAN PEGANG ANU GW DOONG!! DODOL LO!!" ucap Moli
"kagak sengaja gw," ucap Lino
"NAH INI DIA DAPET!!! HAHAHHA!!" ucap Dino sambil mengangkat seekor kecoak yang memberontak di tangannya
"MAKAN NIH!!" ucap Emo yang langsung menginjak kecoa itu hingga wafat
Berakhirlah tragedi kecoak yang hampir memakan satu korban yaitu Moli. Moli terlihat kelelahan dan tergeletak dengan lemas, ia bersyukur bisa selamat dan masih hidup. Tiba-tiba pintu kelas terbuka
"selamat pagi anak-anak," ucap Pak Guru Edi
Semua murid pun langsung duduk kembali ke bangkunya dan mengucapkan salam kepada Pak Guru Edi. Tapi masih ada empat orang bodoh yang masih kaget karena tiba-tiba Pak Edi masuk kelas
"Dino, Moli, Emo, Lino?! sedang apa kalian?!" ucap Pak Edi
"eh nggak pak, lagi main-main aja," ucap Emo
"lalu kenapa Moli telanjang begitu," ucap Pak Edi
"ooooh....hmm...ooooooh....anu pak...hmm..." ucap Emo bingung
"Moli tadi kesurupan pak," ucap Dino
"masa sih?" ucap Pak Edi
"iya pak kesurupan jin sekolah kaya seperti minggu-minggu lalu pak," ucap Lino
"yasudah cepat duduk, ada murid baru yang akan saya perkenalkan," ucap Pak Edi
Emo, Dino dan Moli membuka matanya dengan lebar. Jantungnya seakan berhenti mendadak ketika dua gadis kembar cantik tersenyum ke arahnya. Emo dan Dino tersenyum sambil terlihat gugup dan Moli terlihat memakai celananya dan mencoba berdiri. Keempat orang itu pun langsung menuju bangkunya masing-masing
"Kalian ini malu-maluin saja, ada dua gadis cantik ini malah berlaku tidak wajar," ucap Pak Edi
"iya pak, kenalin dong pak anak barunya," ucap Dino
"ayo kalian pekenalkan diri kalian," ucap Pak Edi
"perkenalkan nama saya Ani,"
"nama gw Ana,"
"kalian duduk saja di bangku paling belakang sana ya karena masih kosong," ucap Pak Edi
"iya pak," ucap Ani
Ani dan Ana pun langsung menuju bangkunya dan Emo, Dino, Moli dan beberapa murid laki-laki terus melihat kedua gadis kembar itu. Emo dan dua teman bodohnya ini terlihat senang karena gadis kembar itu duduk tidak jauh dari mereka dan ini kesempatan buat mereka untuk berkenalan
"halo nama gw Emo," ucap Emo sambil memberikan tangannya
"halo gw Ani,"
"kalo gw Ana,"
"kalo gw Moli, salam kenal ya,"
"iya sama-sama," ucap Ana dan Ani
"halo gw Dino, kalian kembar ya?" ucap Dino yang memberikan pertanyaan sangat cerdas
"yaiyalah lo ga liat muka kita segini miripnya," ucap Ana dan Ani dalam hati
Emo dan Moli terlihat begitu bangga memiliki teman yang sangat cerdas bernama Dino dengan pertanyaan yang berbobotnya
Hari itu pun cepat berlalu dan tidak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi. Satu per satu murid sekolah pun terlihat keluar dari kelas untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Ketiga orang bodoh terlihat sedang melancarkan aksinya sore itu
"kali ini giliran gw, gw yang anterin Ani!!" ucap Emo
"gw Ana!" ucap Moli
Emo dan Moli pun berjalan mendekati Ana dan Ani yang sedang berjalan menuju tangga sekolah
"ni hari ini balik sama siapa? gw anter ya," ucap Emo
"oh gausah, gw dijemput bokap gw," ucap Ani
"seriusan?" bareng gw aja deh,"
"hmm...gak ah, makasih ya," ucap Ani
"yaudah besok-besok kalo gitu ya,"
Ani hanya tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Setelah Emo gagal, Moli pun beraksi
"na! mau bareng ga?!" ucap Moli
"tadi adek gw yang diajak bareng, sekarang gw, ko bisa gitu ya," ucap Ana
"ya gapapa kan,"
"sori gw bareng bokap gw," ucap Ana
"masa sih? bukannya kerja?" ucap Moli
"udah pulang,"
"oh gitu,"
"dah ya, bye!" ucap Ana
Ana dan Ani pun pergi begitu saja meninggalkan Moli sendirian. Moli terlihat begitu kecewa dan ia hanya bisa berdiri sambil melongo. Tapi setidaknya ia sudah berani mengajak gadis yang disukainya untuk pulang bersama
"gagal juga?" ucap Emo
"yoi," ucap Moli
"wajar, orang baru kenal juga," ucap Dino
"iya sih, tapi yang jelas gw harus dapetin ini cewe," ucap Emo
"gw juga harus dapetin Ana," ucap Moli
"lah gw sama siapa ya kalo gitu?" ucap Dino
"ama LINO!!! hahahha!!"
Emo dan Moli pun berlari meninggalkan Dino sambil menertawainya. Dino berteriak memaki-maki kedua temannya. Mereka pun terlihat begitu gembira dan pulang bersama ke rumah mereka. Ketiga sahabat dari kecil itu begitu gembira terutama Emo dan Moli yang baru saja menemukan gadis impiannya beberapa saat lalu. Tapi perjuangan mendapatkan gadis kembar itu tidak akan mudah karena mereka akan menemukan banyak rintangan berat di kemudian hari
kalo cerita pas tentang kecoa keinget SMP . terus yang anak baru juga . itu gua banget hahaha . tapi bedanya , gw deketin anak barunya pake gitar san . haha gw nyanyiin pake gitar sepanjang jalan dia kekantin . dan ternyata gue dikasih seribuan . zzzz
BalasHapushahahahha, kocak abis, boleh juga tuh buat entri selanjutnya
BalasHapushahahahahahahahahahahaha bole2, kocak banget yang kecoa
BalasHapusKeep posting bro..!
BalasHapussip bro thx you
BalasHapusjep
kok rasis gini sih? nggak asyik ah papua-papuan
BalasHapus-fajar
bah, itu mau diganti ambon, soalnya kata dika papua gak ngomong beta, tapi saya, wkwk, tunggu yg kedua lagi proses, keluar bulan Desember 2020. sabar yah, tabah, gw tahu tergila2 ma novel ini, thx,
BalasHapuszep
haha, gak rasis juga sih, candaan doang
BalasHapuszep
Bukannya sensitif, gw sih fine-fine aja urusan rasis alam fiktif gitu kalo emang niatnya candaan, tapi konsekuensinya ya rating novel lo ini jadi novel dewasa, yang sama sekali nggak pantes ngeliat jalan ceritanya.
BalasHapus